News / 05 Jan 2026 /Sherly Nova Maharani

Simak Contoh Penghitungan PPh 21 yang Ditanggung Pemerintah

Simak Contoh Penghitungan PPh 21 yang Ditanggung Pemerintah
SURABAYA - Pemerintah resmi memberikan fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) bagi pekerja di sektor industri padat karya sepanjang tahun 2026. Kebijakan yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 105 Tahun 2025 ini tidak hanya bertujuan menjaga daya beli pekerja, tetapi juga memberi kejelasan dalam mekanisme pemotongan pajak. 

Berikut contoh penghitungan PPh 21 yang ditanggung pemerintah sehingga pekerja dapat memahami besaran pajak yang seharusnya dipotong namun kini dibayarkan oleh negara.

Tuan B bekerja sebagai pegawai tetap di PT Y (usaha hotel bintang/KLU 55110) sejak tahun 2020. Tuan B berstatus menikah dan memiliki 1 (satu) tanggungan (K/1). Setiap bulan, Tuan B menerima gaji dan tunjangan yang bersifat tetap sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah). Pada bulan Januari dan Maret 2026, Tuan B menerima bonus yang bersifat tidak tetap sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah). Selanjutnya, pada awal bulan Oktober 2026, Tuan B memperoleh promosi sehingga gaji dan tunjangan yang bersifat tetap dan teratur yang diterima atau diperoleh Tuan B menjadi Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) per bulan. Rekapitulasi penghasilan Tuan B selama tahun 2026 sebagai berikut:


Meskipun Tuan B menerima penghasilan bruto pada bulan Januari 2026 sebesar 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah), tetapi karena penghasilan bruto yang bersifat tetap dan teratur tidak lebih dari Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) pada bulan Januari 2026 dan PT Y memiliki kode Klasifikasi Lapangan Usaha utama yang tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini, maka Tuan B berhak untuk memanfaatkan insentif PPh Pasal 21 ditanggung pemerintah atas seluruh penghasilan bruto, baik yang bersifat tetap teratur maupun yang tidak tetap tidak teratur, selama tahun 2026. Direktorat Jenderal Pajak dapat menguji besaran penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh Tuan B pada bulan Januari 2026 dengan membandingkan penghasilan bruto yang diterima tuan B beberapa bulan setelahnya. Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah penghasilan yang diterima Tuan B pada bulan Januari 2026 sebesar Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah) tersebut disebabkan oleh kenaikan gaji atau sematamata karena ada bonus.

Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah


Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah pada Masa Pajak Terakhir
Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 terutang pada bulan Desember 2026:
Penghasilan bruto setahun                            Rp 136.000.000
Pengurangan: 
Biaya jabatan 5% X Rp136.000.000,00                                                          Rp 6.000.000,00
(maksimal Rp6.000.000,00)
Penghasilan neto setahun                                    Rp 130.000.000
Penghasilan Tidak Kena Pajak setahun
untuk wajib pajak sendiri               Rp 54.000.000,00 
tambahan untuk menikah               Rp 4.500.000,00 
tambahan untuk 1 tanggungan                  Rp 4.500.000,00
                                                                                                                             Rp 63.000.000
Penghasilan kena pajak setahun                                                                       Rp 67.000.000
Pajak Penghasilan Pasal 21 terutang setahun
5% X Rp 60.000.000,00                 Rp 3.000.000,00 
15% X Rp 7.000.000,00                 Rp 1.050.000,00
                                                                                                                               Rp 4.050.000
Pajak Penghasilan Pasal 21 yang telah dipotong sampai dengan         Rp 3.570.000,00
bulan November 2026 
Pajak Penghasilan Pasal 21 yang harus dipotong pada              Rp 480.000,00
bulan Desember 2026

    Catatan: 
    a. Pajak Penghasilan Pasal 21 ditanggung pemerintah sebesar: 

      1) Rp900.000,00 (sembilan ratus ribu rupiah) pada bulan Januari 2026 dan Maret 2026; 

      2) Rp150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah) pada bulan Februari 2026 dan April 2026 sampai dengan September 2026; 

      3) Rp360.000,00 (tiga ratus enam puluh ribu rupiah) pada bulan Oktober 2026 dan November 2026; dan 

      4) Rp480.000,00 (empat ratus delapan puluh ribu rupiah) pada bulan Desember 2026, merupakan insentif yang harus dibayarkan secara tunai oleh PT Y pada saat pembayaran penghasilan kepada Tuan B. 

      b. PT Y membuat bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan mencantumkan insentif Pajak Penghasilan Pasal 21 ditanggung pemerintah.






      pph-21 , pph-pasal-21-dtp

      Tulis Komentar



      Whatsapp